Kabupaten Blora merupakan salah satu kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang terletak di wilayah paling ujung (bersama Kabupaten Rembang) di sisi timur Propinsi Jawa Tengah.  Wilayah dengan luas 182.058,777 hektare, secara geografis pada bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati, sedangkan pagian timur berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur), di sebelah Selatan dengan Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) dan di sebelah Barat dengan Kabupaten Grobogan, Jateng. 
Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang, asal mula kata Blora berasal dari kata Belor yang berarti lumpur. Kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya hingga kini terkenal dengan sebutan Blora.

Meskipun bukan termasuk menjadi jalur utama perlintasan transportasi darat antar kota dan antar provinsi, seperti kabupaten Rembang, potensi alamnya cukup melimpah, seperti hutan jati dan minyak bumi.

Kabupaten Blora terdapat wilayah yang memiliki ketinggian terendah 30-280 ketinggian dari permukaan laut dan tetinggi 500 dpl, yang diapit oleh Pegunungan Kendeng Utara dan Selatan memiliki areal hutan jati yang cukup luas karena mencapai 79.559.749 hektare atau 43,70 persen dari total luas daerah.

Sebelum terjadinya penjarahan hutan jati, Kabupaten Blora memiliki hutan terluas dan merupakan komoditi unggulan,disusul lahan sawah seluas 46.186,99 hektare dan lahan tegalan (kering) seluas 26.315,34 hektare.

Potensi alam yang cukup terkenal di wilayah ini, yakni potensi minyak bumi terutama di daerah Cepu. Kabupaten Blora yang terbagi menjadi 16 kecamatan yang terdiri 271 desa dan 24 kelurahan, juga memiliki sejumlah potensi galian tambang seperti, pasir kuarsa, batu pasir, gypsum dan batu bara.

Blora juga dikenal sebagai daerah penghasil kayu jati, karena hampir separoh wilayahnya merupakan hutan jati.

Potensi kayu jati yang cukup melimpah itu, mendorong tumbuh suburnya berbagai kerajinan yang memanfaatkan kayu jati sebagai bahan baku utama, seperti handycraft, seni ukir, kaligrafi, dan mebel kayu bonggol jati. Bahkan, ada wilayah yang menjadi sentra kerajinan yang memanfaatkan bonggol pohon kayu jati yang dianggap tidak bermanfaat oleh pihak Perhutani.

Blora juga memiliki sejarah melahirkan sejumlah tokoh penting di bidang sastra, seperti Pramoedya Ananta Toer, selain juga memiliki potensi wisata alam, adat budaya, geologi, serta aneka ragam kesenian tradisional yang memiliki keunikan atau daya tarik tersendiri.

Bahkan, daerah ini juga terkenal dengan adanya orang-orang samin yang merupakan keturunan, kerabat maupun rakyat dari seorang pejuang bernama Samin Surosentiko yang lahir pada 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, Kabupaten Blora. Saat masih kecil bernama Raden Kohar yang merupakan seorang Pangeran atau Bangsawan yang menyamar di kalangan rakyat pedesaan dan ingin menghimpun kekuatan dari rakyat bawah guna melawan Pemerintah Kolonial Belanda.

Kabupaten Blora mempunyai motto pembangunan “MUSTIKA”, yakni maju, unggul, sehat, tertib, indah, kontinyu, dan aman serta memiliki etos kerja “BLORA”, yakni berani, loyal, dan rasional. Meskipun memiliki keunggulan dalam hal produksi kayu jati maupun wilayah penghasil minyak, akan tetapi bangunan rumah penduduknya masih kalah dibanding kabupaten tetangga.

Hadirnya pabrik gula baru yang ada di Kecamatan Todanan, diharapkan bisa mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Blora, terutama masyarakat sekitar yang mayoritas memanfaatkan lahan pertanian sebagai salah satu sumber penghidupan.

Kehadiran pabrik gula, tentunya mendorong para petani setempat untuk menanam tanaman tebu, menyusul hasilnya bisa dijual kepada pabrik terdekat. Selain itu, keberadaan pabrik tersebut juga diprediksi bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar, selain adanya penyerapan tenaga kerja baru.

Pembangunan pabrik gula di Blora juga bisa mendukung terealisasinya program Jateng swasembada gula pada 2014 seperti yang dicanangkan Pemerintah Pusat.

Sebagai salah satu daerah lumbung padi di Jateng, tentunya kemajuan Blora masih bisa ditingkatkan lewat pola bercocok tanam yang lebih modern dalam menghasilkan padi yang berkualitas dan produktifitas yang semakin meningkat, meskipun persoalan air untuk irigasi pertanian masih menjadi kendala.

Potensi lain di bidang pertanian yang dimiliki kota ini, juga tak kalah dengan daerah lain, seperti komoditas tanaman pangan yang potensial dikembangkan menjadi sebuah usaha agribisnis unggulan di Kabupaten Blora adalah komoditas jagung.

Sedangkan komoditas tanaman yang bisa dikebangkan menjadi unggulan, yakni tanaman waluh (labu merah) karena bisa dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pembuat makanan khas Kota Blora, seperti egg roll waluh, stik waluh, dan brownis kering, serta makanan ringan lain berbentuk kue yang menggunakan bahan baku buah waluh.

Berkembangnya industri rumahan yang membuat aneka kue yang menggunakan bahan baku waluh, mendorong masyarakat di Blora, terutama di Kecamatan Cepu untuk berlomba-lomba menanam di pekarangan, mengingat waluh merupakan tanaman yang produktif dan mudah tumbuh, serta memiliki kandungan salah satu provitamin A dan juga sebagai antioksidan.

Harga waluh di wilayah Cepu, kini terdongkrak naik, menyusul tingginya permintaan untuk dijadikan bahan pembuat aneka kue, yang kini mulai dikenal sebagai makanan khas Blora. Waluh tersebut, juga masih dikembangkan di daerah lain, sehingga bisa menjadi salah satu kebanggan masyarakat Blora karena memiliki makanan khas yang bisa dijadikan oleh-oleh para wisatawan atau masyarakat luar kota yang kebetulan singgah di Blora.

Potensi Blora di bidang pariwisata juga cukup menarik untuk dikunjungi, karena beberapa objek wisata yang ada memiliki nilai sejarah cukup tinggi, seperti Makam Srikandi Aceh, Poucut Meurah Intan, Abdul Kohar yang merupakan penyebar agama Islam di wilayah Blora yang juga masih saudara kandung Abdullah Muttamaqin (Pati), Sunan Pojok, serta Maling Gentiri yang dijuluki sebagai ratu adil karena suka menolong rakyat kecil yang sedang kesusahan.

Selain itu, masih ada makam Jati Kusumo dan Jati Swara yang merupakan dua bersaudara putra dari Sultan Pajang yang suka mengembara dan menyebarkan Agama Islam. Dari kedua tokoh tersebut, Blora memiliki wayang krucil yang terbuat dari kayu dengan usia yang mencapai ratusan tahun yang lalu.

Hingga kini, wayang krucil peninggalan Kusumo dan Jati Swara masih tersimpan di rumah salah satu tokoh setempat.

Sejumlah objek wisata bersejarah lainnya juga masih bisa ditemukan di Blora, seperti makam khusus Bupati Blora maupun objek wisata alam untuk refresing keluarga.

promojateng-pemprovjateng.com