Liputan6.com, Jakarta: Pesawat Sukhoi Superjet 100 hilang kontak pada pukul 14.33 WIB atau setelah 21 menit lepas landas dari Bandar Udara Halim Perdana Kusumah Jakarta, Rabu (9/5). Demikian dikatakan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo di Jakarta.

“Terakhir, komunikasi tercatat, pesawat minta turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki, namun penyebabnya belum diketahui,” jelas Kepala Basarnas. “Titik terakhir posisi pesawat berada di sekitar Gunung Salak, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat. Bantuan dari Basarnas, serta tim gabungan TNI-Polri pun sudah diturunkan, untuk melakukan pencarian.”

Sementara pihak PT Trimarga Rekatama, agen Sukhoi di Indonesia, memastikan akan bertanggung jawab terhadap korban pesawat Sukhoi Superjet 100 itu. Hal ini ditegaskan Sunaryo, perwakilan dari perusahaan itu.

Sukhoi Superjet 100 berada di Indonesia untuk melakukan joy flight dan mengundang sejumlah maskapai penerbangan dan pers. Penerbangan pertama pada Rabu siang berhasil, hingga dilanjutkan penerbangan kedua dan berakhir dengan kehilangan kontak.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 baru dikenal publik sebagai salah satu pesawat dengan kapasitas di bawah seratus penumpang. Pesawat produksi Rusia itu mulai digunakan melayani penerbangan komersial pada tahun lalu.

Jakarta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan mengungkap bagaimana pesawat Sukhoi Superjet 100 menabrak tebing, meledak, dan terbakar. Namun dengan melihat lokasi kecelakaan dan puing-puing pesawat, diduga pesawat itu menabrak tebing dengan bagian perut terlebih dulu, bukan bagian hidung pesawat.

Dugaan ini disampaikan sejumlah anggota Tim SAR dan relawan yang sudah melihat lokasi kecelakaan dan sudah turun di Posko Cipelang, Cijeruk, Bogor yang lebih dikenal dengan Posko Kandang Sapi saat berbincang-bincang dengan detikcom, Sabtu (12/05/2012).

Menurut mereka, puing-puing pesawat yang berserakan di sekitar lokasi tidak ada yang dalam bentuk bagian besar. Puing paling besar hanya sayap pesawat bagian kiri. Badan pesawat tidak ditemukan dan diyakini hancur berkeping-keping menjadi puing-puing yang sangat kecil.

Bila pesawat yang berbahan kokoh ini saja hancur berkeping-keping, bisa dibayangkan bagaimana tubuh para penumpangnya. Menurut para relawan, semua jenazah yang sudah ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

“Saya tidak bisa menggambarkan secara vulgar kondisi jenazah, yang jelas begitu saya melihat jenazah, saya langsung sedih dan menangis,” kata relawan dari Taman Nasional Halimun, Mersan.

Dengan melihat kondisi pesawat yang hancur lebur dan kondisi jenazah yang tidak utuh, sejumlah anggota Tim SAR dan relawan menduga kuat bahwa perut pesawat yang menghantam tebing dan kemudian meledak dan terbakar.

“Kalau bagian hidung pesawat yang menabrak tebing, kemungkinan besar pesawat tidak hancur berkeping-keping, masih ada baian besar yang tersisa,” kata salah seorang di antara mereka.

Bila bagian perut pesawat yang menabrak tebing, maka efek ledakan dan api kemungkinan berasal dari tangki bahan bakar. “Adanya api saat pesawat itu meledak, terlihat dari pepohonan dan rerumputan yang gosong dan mengering,” kata salah seorang Tim SAR.

Sedangkan ledakan pesawat sudah menjadi fakta tak terbantahkan. “Warga Cipelang mendengar ada ledakan sangat keras, setelah sebelumnya terdengar suara pesawat terbang. Namun mereka tidak bisa melihat pesawat itu karena kabut tebal,” kata Agus, salah seorang anggota Basarnas.

Menurut warga, kabut memang sangat tebal pada hari Rabu (9/5) saat pesawat Sukhoi yang membawa 45 kru dan penumpang itu menabrak tebing. Hal ini sesuai dengan data LAPAN yang menyatakan bahwa saat itu terjadi kabut tebal setinggi 57 ribu kaki.

Nah, gara-gara kabut inilah, kemungkinan pilot pesawat Sukhoi memiliki jarak pandang terbatas. Dia tidak bisa melihat medan dengan jelas. “Begitu tahu pesawat akan menabrak tebing, pilot kemungkinan mengangkat pesawatnya untuk menghindari tebing. Tapi karena jarak yang sangat pendek, upaya pilot menghindari tebing tidak berhasil dan perut pesawat malah menabrak tebing,” kata anggota Tim SAR itu.

Benarkah dugaan di atas? Ini hanya dugaan-dugaan tim relawan yang telah bersusah payah menuju lokasi dan mengevakuasi jenazah para korban. Benar tidaknya dugaan ini tentu kita harus menunggu hasil penyelidikan KNKT