SPG Simpanglima memang nikmat rasanya. Kalau nggakpercaya, silahkan datang malam hari di Simpanglima Purwodadi, segera pesan, dan rasakan sensasi nikmatnya. Ditanggung mantap! Tapi, eits tunggu dulu. SPG di sini bukan kepanjangan dari Sales Promotion Girl yang identik dengan gadis-gadis berparas jelita berbaju seksi itu. Namun, kepanjangan dari SEGO PECEL GAMBRENGAN.
Ya, Sego Pecel Gambrengan atau disingkat SPG merupakan makanan khas dari daerah Gambrengan (Purwodadi). Kuliner ini banyak dijajakan di Stasiun Gambrengan, sehingga dikenal dan terkenal dengan nama Sego Pecel Gambrengan.
Namun, saat ini kuliner ini tidak hanya dijual di Stasiun Gambrengan saja. Di beberapa tempat, ada juga dijumpai penjual nasi pecel Gambrengan ini. Salah satunya adalah di Simpanglima Purwodadi. Tepatnya di pojok Jl. R. Soeprapto atau persisnya di trotoar belakang Masjid Jabalulkhoir, Anda akan menjumpai warung tenda yang menjual Sego Pecel Gambrengan.

Pecel Gambrengan di Stasiun Alas Tua Semarang

KOMPAS.com — Untuk penikmat nasi pecel yang sedang berada di Semarang dan sekitarnya, jangan lewatkan nasi pecel Gambrengan di jalur rel kereta api ruas Semarang-Purwodadi-Bojonegoro. Lokasinya di Stasiun Alas Tua, Bangetayu, Semarang, Jawa Tengah.
Sejumlah penikmat nasi pecel Gambrengan yang dikelola Ibu Titik itu mengatakan, rasa pecel Gambrengan sangat khas. Rasanya pedas, aroma kacang juga otentik tanpa rasa bawang putih atau daun jeruk. Hari Minggu (1/4/2012) pagi tadi, para penggemar yang datang umumnya adalah penggemar olahraga sepeda, tetapi tak sedikit juga warga yang memang penggemar setia pecel Gambrengan.
Salah satunya adalah Suwanto yang bersama teman-temannya pagi tadi bersepeda bersama. Dia mengaku menikmati pecel Gambrengan sudah jadi kewajiban. Pecel ini jadi nikmat karena sayurannya juga termasuk langka, yakni bunga turi, yang menemani daun pepaya dan juga tauge.

Nama pecel Gambrengan merujuk pada pedagang pecel yang kebanyakan berasal dari Desa Gambrengan, sekitar stasiun KA di daerah Gundik, Kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan.
Pedagang pecel tradisional ini pada tahun 1940 sudah banyak berjualan di stasiun maupun di atas gerbong kereta api yang melintas jalur Semarang-Bojonegoro. Lalu ada yang mangkal di stasiun seperti Ibu Tutik itu.
Nasi pecel Gambrengan yang dikelola Ibu Titik buka setiap hari sejak pukul 05.00 hingga pecelnya habis. Berjualan di depan Stasiun Alas Tua, salah satu stasiun tertua dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia.
“Hanya dengan merogoh kocek Rp 3.000, Anda sudah bisa menikmati nasi pecel, sayuran sehat, dan peyek iwak teri atau iwak peyek kayak lagu yang lagi ngetop, ” ujar Parwito, penggemar pecel dari Klipang, Semarang.

Dari berbagai sumber