Katanya “Guru” artinya ia “yang di gugu dan di tiru”, padahal pepatahnya bilang kalau “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Ini kan namanya tidak konsisten. Mestinya muridnya kencing berdiri juga dong? Lagian tidak ada guru yang kencing berdiri.

Sebaiknya “Guru” kita artikan “Gudang Untuk Ranah ilmU”, supaya bisa sejalan dengan pengertian bahwa untuk menjadi guru berarti menjadi orang yang memiliki apa yang dibutuhkan oleh murid. Rasul kita Muhammad saw itu seorang guru, beliau adalah gudang ilmu. Oleh karena setiap gudang punya pintu, maka jangan masuk ke dalam gudang melalui jendela atau atapnya, bisa ditangkap buser atau kapeka. Lewat pintunya harus pakai kunci asli, jangan yang imitasi.

Rasul kita yang mulia adalah juga guru bagi alam semesta, pintunya tentu saja Ali, yang berarti juga pintu bagi gerbang semesta. “Aku gudang (atau kota) Ilmu, Ali pintunya” begitu sabda beliau. Dari jejak sejarah, sebagai guru beliau tidak selamanya di gugu dan ditiru, malah banyak dibantah dan di khianati oleh para bekas muridnya, atau yang berpura-pura menjadi muridnya, atau murid-muridnya yang kemudian tidak lulus dalam berbagai ujian. Sudah alamiah bahwa seorang guru tidak harus memiliki keseluruhan murid yang brilian dan soleh. Ada saja beberapa yang mbalelo, tukang tipu dan bego. Waspadalah, kalau mau kenal guru tanyakan pada murid murid teladannya saja. Ketuklah hati guru dibilik pintunya.

Mari kita berbincang soal guru. Bicara soal belajar mengajar. Mengajar merupakan suatu bidang jasa yang penting dan besar, profesi yang terhormat sejak dari awal sejarah manusia. Para Nabi,para Imam, para filosof, semuanya mengajar. Kita akan punya persoalan jika profesi mengajar bukan lagi untuk memberikan apa yang kita yakini benar, melainkan untuk menanamkan keyakinan-keyakinan serta kebodohan-kebodohan yang dipandang berguna oleh mereka yang memerintahkannya. Seperti di kebanyakan sekolah kita, bahwa kebenaran tak lain daripada sponsor penguasa (pemerintah), penyandang dana, atau dalih warisan nenek moyang. Al Qur’an sangat keras mengritik ini; “….Apakah mereka akan mengikuti nenek moyang mereka itu, padahal nenek moyang mereka tidak mengetahui dan mendapat petunjuk?”

Dahulu seorang guru adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan yang istimewa yang kata-katanya patut didengarkan. Kata pepatah; “Kata-kata cendikiawan untuk diketahui, tetapi kata-kata guru untuk didengar”. Tidak sedikit diantara mereka, para guru, yang dihukum karena pikiran-pikiran dan ajarannya yang dianggap “subversif”. Socrates dihukum mati, Plato dijebloskan dalam penjara, dan juga para Imam Suci diperlakukan sedemikian zalimnya. Begitu juga “nasib sial” menimpa para ulama dan para ilmuwan. Syukurlah, jeruji penjara, fitnah, tekanan dan pembunuhan tidak mampu menghambat tersebarnya ajaran-ajaran mereka. Jika tidak kawan, kamu tidak akan jadi filosof, ilmuwan, tidak akan jadi Islam, dan tidak akan jadi Syiah, hehehe.

Setuju oleh apa yg dikatakan Bertrand Russell, bahwa tiap orang yang memiliki naluri guru yang murni lebih senang hidup terus dalam buku-bukunya dari pada dalam tubuhnya. Karena itu, jika para guru mau hidup terus, ya boleh juga nulis buku dong ah. Melalui buku-bukunyalah (wujud dari kemerdekaan intelektualnya) para guru, dari zaman ke zaman, menanamkan pengetahuan serta daya nalar yang dimilikinya ke dalam proses pembentukkan manusia. Imam Ali paling pas untuk contoh ini. Beliau satu-satunya khalifah yang menjadi guru tempat bertanya untuk ketiga lainnya, dan satu-satunya yang meninggalkan karya intelektual,ilmu dan spiritual.

Tentu saja kalau sudah begini kajiannya tentang guru, ini sepertinya tidak menunjuk pada para guru PNS maupun swasta yang paling tidak mandiri dan tidak merdeka kehidupannya itu. Kita tahulah, bahwa menjadi pegawai negri, sekalipun sudah doktor, hanya berkewajiban melaksanakan perintah orang-orang yang bahkan pendidikannya tidak setara dengannya, dan, lebih gawat lagi, yang mungkin saja orang-orang yang pendidikannya tidak memadai dan kebetulan secara struktural menjadi atasannya itu malah memandang pendidikan sebagai tidak lain dari propaganda. Gawat kan? Hati-hati juga lho, wahai para guru, ada bahaya yang lebih besar daripada persoalan struktural dan atasan lembagamu, yaitu masalah kultural; masalah perbudakan international, yaitu jika Anda terus berkiblat dan terpesona terhadap budaya-budaya yang sekarang dianggap banyak orang paling unggul; Eropa dan Amerika serta etos kerja dari agama dogmatis Timur dan Barat. Kesalahan menafsirkan budaya dan adab bisa menimbulkan mental imperialistik dan jerat agama dogmatis hanya akan menyebarkan kebencian. Anda tahu, masih tertanam dalam ashabiyah ras dan budaya unggul untuk memarjinalisasi yang lain sebagai “pinggiran”, sementara kaum dogmatis di seluruh dunia percaya bahwa meskipun mereka mengetahui (klaim) kebenaran, orang-orang lain akan terjerumus ke dalam kepercayaan sesat jika mereka diperkenankan mendengarkan argumen dari dua sisi yang bertentangan. Orang dogmatis kagak bakalan mau diajak diskusi baek-baek. Paling banter kita dikapirin.

Guru adalah pembela peradaban, dia mengerti bagaimana harus sungguh-sungguh menyelami arti peradaban itu dan sepenuh hati ingin menanamkan sikap beradab dalam jiwa murid-muridnya. Peradaban dalam artinya yang lebih penting adalah sesuatu yang terdapat dalam jiwa, bukan pada peralatan materi dari sisi fisik kehidupan. Peradaban juga menyangkut soal pengetahuan, dan sebagian lagi soal perasaan. Sejauh yang kita persoalkan adalah pengetahuan, maka seorang manusia harus menyadari kekecilan diri dan lingkungannya berhadapan dengan dunia dalam totalitas ruang dan waktu. Dalam hal perasaan, kita butuh perluasan cakrawala yang serupa dengan perluasan cakrawala pribadi jika seorang manusia hendak menjadi beradab dalam pengertian yang sesungguhnya. Guru sejati dituntut oleh kenyataan ini dan akan memahami semua ini. Ohoi, alangkah berat dan repotnya menjadi guru kalau begitu.

Seorang guru, tentu pertama-tama mengajar manusia. Ia sudah pasti harus tahu bahwa manusia yang akan diajarnya itu, adalah makhluk paradoksikal, yang berlalu dari kelahiran menuju kematian; adakalanya dengan bahagia, adakalanya dengan sedih, adakalanya dengan pengertian, adakalanya dengan kaku dan picik, adakalanya dengan sikap herois, adakalanya sebagai pengecut dan penjilat. Gimana ngatasinnya nih guru? Disisi lain ada sejumlah manusia yang telah diilhami oleh kecintaan akan ummat manusia, yang telah dikaruniai dengan kepandaian luar biasa dan telah membukakan mata kita untuk memahami dunia. Manusia yang memiliki kepekaan luar biasa dalam menciptakan karya-karya yang indah. Manusia inilah, yang telah menghasilkan hal yang positif yang mampu mengatasi panjangnya sejarah kekejaman, penindasan dan takhyul; Inilah para Guru itu. Guru yang tidak terlalu sibuk dengan soal sertifikasi.

Siapa mau jadi guru?

artikel kompasiana