ir-naba-aji-Notoseputro-direktur-bsiJika Bill Gates si empunya Microsoft membangun perusahaannya sejak usia remaja, maka kita punya Naba Aji Notoseputro yang juga berjuang membangun BSI (Bina Sarana Informatika) dari nol hingga menjadi besar seperti sekarang ini bahkan sebelum usianya menginjak 20 tahun. Percaya atau tidak, BSI adalah sebuah masterpiece dari lima sekawan yang bertemu dalam satu tongkrongan anak muda yang sering ngumpul lalu secara tidak sengaja tercetus ide membuat sebuah tempat kursus computer lantaran tak kunjung mendapat pekerjaan. Dan berkat beliau-beliau inilah lebih dari 40.000 anak Indonesia dapat mengecap bangku kuliah dengan biaya yang terjangkau di BSI.

“Saya membangun BSI dengan keyakinan bahwa SDM Indonesia sebenarnya memiliki potensi dan peluang yang banyak akan tetapi sering kali terganjal dengan mahalnya pendidikan. Banyak anak Indonesia yang cerdas tapi tak bisa meneruskan kuliah bahkan di PTN sekalipun karena tak sanggup membayarnya, padahal untuk menjadi teller di bank saja mereka meminta syarat minimal lulusan S1. Jika terus-terusan begini bisa dipastikan yang miskin akan tetap dengan keadaannya walau otaknya pintar. Karena itulah saya bertekad mencerdaskan sebanyak mungkin anak bangsa dengan membangun perguruan tinggi yang bermutu tapi terjangkau.” Jelas Bapa tiga orang anak ini dengan semangat 45. “Tentu, tak hanya perguruan ecek-ecek yang hanya bisa memberikan gelar tapi tak bisa memberi masa depan. Kami, saya dan rekan-rekan punya tanggung jawab moral tidak hanya meluluskan mahasiswa-mahasiswa itu menjadi sarjana tetapi juga mencarikan mereka pekerjaan.”

Suami dari Ibu Endah Nurcahyati ini juga menjabarkan dua hal yang ia tawarkan pada mahasiswa BSI. Ingin menjadi pekerja atau entrepreneur. Jika pilihannya kerja, maka beliau menujuk BSI Career sebagai wadah dari bentuk tanggung jawab dan kepedulian BSI terhadap masyarakat terutama civitas akademiknya dalam menangani persiapan dan penempatan karir mahasiswa/alumni BSI. Dan jika pilihannya entrepreneur, beliau akan menghantarkan kita ke komunitas BSI Entrepreneur yang akan memberikan tips-tips penting dalam berbisnis. Selain itu BSI Entrepreneur juga mengantarkan komunitasnya membangun sebuah bisnis kretif yang sesuai dengan masing-masing pribadi.

Beliau bercerita sebelum menjadi sekarang ini beliau juga sama seperti kita yang hanya dari kalangan biasa dengan ayah bernama bapak Sutikno yang seorang seniman lukis biasa dan Ibunda, Ibu Kusmaningsih yang bekerja sebagai guru SD di Purworejo sana. “Keadaan yang memaksa saya berpikir bagaimana caranya menciptakan pekerjaan bukan mencari pekerjaan. Alhamdulillah keringat dan lelah saat kuliah dulu yang nyambi mengajar Depok-Bogor karena saat itu saya kuliah di Institut Pertanian Bogor berbuah manis.” Kata Ayah dari Radifan (11), Rafina (8) dan Rafensa (4) ini haru. “Sekarang sebagai owner saya yang mengendalikan waktu kerja saya. Banyak yang bertanya bagaimana saya membagi waktu, saya katakan waktu tak bisa di bagi tapi dijalani dan dimanfaatkan. Saya masih bisa berkumpul, bercanda riang dengan keluarga walau membawahi belasan cabang BSI. Tentu hal yang bisa saya raih sekarang, tidak gratis begitu saja, karena saya telah membayar mahal dengan waktu, tenaga, keringat dan pikiran di masa muda yang saya pergunakan untuk membangun semua ini.” Paparnya seraya menularkan virus semangat dan optimisme yang luar biasa.
Laki-laki 42 tahun yang mempunyai semboyan hidup ‘Bermanfaat bagi bagi banyak orang, nusa, bangsa dan agama’ ini menerapkan tiga dasar prinsip hidupnya di BSI, yakni;

1. Tidak akan menjadi miskin dengan bersedekah. Hal ini bisa dibuktikan setiap penerimaan mahasiswa baru, BSI membebaskan biaya kuliah hingga lulus minimal 2,5 % dari jumlah seluruh pendaftar dan hasilnya setiap tahun persentasi kepercayaan maasyarakat tumbuh semakin besar, sehingga guna mendekati peserta didik, maka secara berturut-turut dan dengan persiapan matang berdirilah cabang-cabang lainnya. “Saya bisa saja membuat BSI seperti Gunadarma atau Binus dengan uang muka tinggi dan biaya semester di atas tiga juta, tapi hal itu tidak saya lakukan walau UU BHP melegalkannya lewat komersialisasi pendidikan, karena tujuan saya bukan semata mengeruk uang, tapi mencerdaskan sebanyak mungkin anak-anak bangsa. Oleh karena itu cabang-cabang pun di buka, tak lain untuk memudahkan mereka yang tinggal di daerah.” Jelas beliau yang juga mendapat amanah dari pemerintah sebagai Konsultan DEPDIKNAS karena kesuksesannya bersama BSI melahirkan para Diploma yang berkwalitas.

2. Tidak akan pernah menjadi bodoh dengan berbagi ilmu. Setiap tahun banyak mahasiswa/ alumni BSI yang memiliki kemampuan lebih beliau sarankan untuk menjadi instruktur lab atau asistent dosen yang di gaji perbulan plus di sekolahkan lagi hingga S1 bahkan S2.

3. Tidak akan mati dengan berpuasa. Yang satu ini mutlak resep sukses alumnus SMAN 1 Depok yang sekarang sedang melnjutkan S2 di Faklutas Hukum UNPAD Bandung ini. Analisanya, kalau kita punya uang seribu dan ingin bersedekah lebih maka ada pengorbanan yang beliau lakukan, yakni dengan berpuasa. Subhanallah, beliau aja bisa, kenapa kita nggak ? Ayo siapa mau menjadi Naba Aji berikutnya ?
Semangat dan Optimis dan Ikhlas itu kuncinya !

http://www.inspirasionline.com