Masjid Raya Ganting (juga ditulis dan dilafalkan Gantiang dalam dialek Minang) adalah sebuah masjid yang terletak di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur,Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Mulai dibangun pada tahun 1805, masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Padang dan salah satu yang tertua di Indonesia serta telah menjadi cagar budaya

Masjid Raya Ganting turut berperan dalam perjalanan sejarah Kota Padang. Selain sebagai lokasi pengembangan Islam di pulau Sumatera, masjid ini juga berperan dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan di Padang.

Sejak awal berdirinya, masjid ini dimanfaatkan sebagai tempat bimbingan manasik calon haji. Masjid ini juga menjadi tempat embarkasi haji pertama di Sumatera Tengah melalui Pelabuhan Teluk Bayur yang dibuka pada tahun 1895.[6][18] Sebelum berakhirnyaperang Padri, pada tahun 1918, para ulama di Minangkabau mengadakan pertemuan di Masjid Raya Ganting untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melaksanakan pemurnian ajaran agama Islam dari pemahaman mistik dan khufarat.

Pada tahun 1921, Abdul Karim Amrullah mendirikan sekolah Thawalib di dalam pekarangan masjid sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat kota Padang saat itu, yang alumninya kemudian mendirikan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang merupakan cikal bakal Partai Masyumi. Masjid ini juga dijadikan lokasi jambore nasional pertama gerakan kepanduan Muhammadiyah Hizbul Wathan pada tahun 1932.

Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada tahun 1942, Soekarno yang ditahan Belanda di Bengkulu diungsikan ke Kutacane. Namun, sesampainya di Painan, tentara Jepang sudah lebih dahulu menduduki Bukittinggi sehingga Belanda mengubah rencana semula dengan mengungsi ke Barus dan meninggalkan Soekarno di Painan. Selanjutnya, Hizbul Wathan, yang saat itu bermarkas di Masjid Raya Ganting, menjemput Soekarno untuk dibawa ke Padang dengan menggunakan pedati. Beberapa hari kemudian, Soekarno yang telah tiba di Padang menginap sementara waktu di salah satu rumah pengurus Masjid Raya Ganting dan sempat memberikanpidato di masjid ini.

Sebagian kerusakan yang dialami Masjid Raya Ganting setelah gempa bumi tahun 2009

Selama pendudukan tentara Jepang di Indonesia, masjid ini dijadikan sebagai markas besar wilayah Sumatera Barat dan Tengah sekaligus tempat pembinaan prajurit Gyugun dan Heiho, yang merupakan kesatuan tentara pribumi yang dibentuk oleh Jepang. Anggota perwira militer Gyugun terdiri atas paraulama, sedangkan prajurit Heiho diambil dari para santri.[6][20]

Setelah tentara Sekutu mendarat di Sumatera, banyak tentara Inggris dari kesatuan tentara Muslim Indiamembelot dan bergabung dengan tentara rakyat setempat. Mereka mengatur strategi penyerangan dari masjid ini, termasuk penyerangan ke salah satu tangsi militer Inggris dari kesatuan Gurkha.[20] Ketika seorang prajurit Muslim itu tewas dalam perkelahian di markas militer yang hanya berjarak 200 meter dari masjid, jenazahnya disemayamkan di Masjid Ganting.

Sejak tahun 1950, Masjid Raya Ganting mulai banyak dikunjungi oleh pejabat negara baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sejumlah pejabat negara yang pernah berkunjung ke masjid ini, antara lain, adalah Wakil Presiden Mohammad Hatta, Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwana IX, Wakil Ketua DPR-GR Achmad Syaichu, dan Ketua MPRS Abdul Haris Nasution. Sementara itu, tokoh luar negeri yang pernah mengunjungi masjid ini, antara lain, adalah Sekretaris Negara Malaysia serta pejabat dariArab Saudi dan Mesir.

Pada 10 April 2005, terjadi gempa bumi di pantai barat Sumatera dengan kekuatan 6,7 skala Richtersetelah terjadinya gempa bumi lebih besar di sekitar Pulau Nias dua minggu sebelumnya. Sejumlah tiang penyangga utama kuda-kuda atap Masjid Raya Ganting retak dan patah akibat gempa ini.

Selanjutnya, masjid ini merupakan salah satu dari 608 unit tempat ibadah di Sumatera Barat yang rusak berat akibat gempa bumi 30 September 2009. Selain meruntuhkan sebagian fasad masjid, gempa tersebut juga meretakkan tiang-tiang ruang utama sehingga bangunan ini dikhawatirkan roboh. Sebelum dilakukan renovasi pada tahun 2010, kerusakan yang dialami masjid ini menyebabkan aktivitas ibadah terganggu sehingga, selama sementara waktu, aktivitas ibadah harus dilakukan di halaman masjid.

Pada tahun 2011, masjid ini dimasukkan dalam daftar masjid terindah di Indonesia yang diterbitkan dalam buku 100 Masjid Terindah Indonesia oleh PT Andalan Media. Selain Masjid Raya Ganting, masjid lain dari Sumatera Barat yang dimuat dalam buku tersebut ialahMasjid Raya Bayur.

dari website masjid ganting:

Sekilas Tentang Masjid.

Masjid yang didirikan pada tahun 1805 dan selesai pada tahun 1810 ini merupakan masjid tertua di kota Padang. Masjid Raya Gantiang termasuk bangunan yang selamat dari hantaman gelombang tsunami  akibat gempa bumi di Padang pada tahun 1833.
Sejak abad ke-19, Masjid Raya Gantiang mulai banyak dikunjungi beberapa pejabat tinggi negara, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tercatat dari beberapa pejabat negara yang pernah berkunjung sekaligus melaksanakan sholat di Masjid Raya Gantiang antara lain Soekarno, Mohammad Hatta, Hamengkubuwana IX, Achmad Syaichu, Abdul Haris Nasution, dan beberapa tokoh lainnya. Pada tahun 1942, Soekarno pernah menginap di salah satu rumah yang ada di belakang masjid, bahkan memberikan pidato di masjid ini.
Saat ini, selain digunakan sebagai aktifitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan Agama diantara lain TPA/TPSA, pendidikan Wirid Remaja yang bertujuan untuk mendidik para remaja untuk tetap berada dijalan Allah yang biasanya dihadiri oleh murid-murid SLTP & SLTA yang diadakan setiap dua kali sebulan minggu pertama dan ketiga, kemudian Pesantren Ramadhan yang diadakan selama 30 hari selama bulan ramadhan yang terdiri dari siswa SD, SLTP, & SLTA. Di halaman masjid ini dahulunya juga terdapat lembaga pendidikan Thawalib yang didirikan oleh Abdul Karim Amrullah pada tahun 1921.

Kegiatan Fisik Tahun 2012.

Pertama tama kami mengucapkan terima kasih pada PT. Bank Mandiri karena telah mendanai dalam perbaikan Masjid yang rusak akibat gempa 30 September 2009 lalu. Tetapi ada beberapa keluhan dari pengurus tentang hasil perbaikan oleh kontraktor diantaranya :

  • Mimbar yang ada diluar / dilapangan Masjid, pembangunannya tidak seperti bentuk aslinya.
  • Plank nama Masjid Raya Gantiang yang berada didinding depan atas Masjid bagian tengah tidak dibuatkan kembali.
  • Dinding atas bagian kiri Masjid terlihat agak melengkung/lari dari tegak lurus dasarnya.
  • Gubah puncak dan gonjong atas, dari tingkatan atas tampaknya agak sedikit miring keselatan/tenggara.
  • Demikian pula kayu kuda-kuda, tonggak penyangga masih ada yang belum diperkuat.
  • Penempatan balok-balok pada tiang-tiang dan dinding Masjid serta pemasangan triplek plfon kualitasnya kurang memuaskan.

dalam pertengahan tahun 2011 sekiranya PT. Bank Mandiri telah menyerahkan hasil perbaikan oleh kontraktor kepada Pengurus. Direncanakan kegiatan fisik yang akan dilakukan dengan pembiayaan Masjid antara lain :

  1. Mengganti seluruh kabel listrik lama yang tidak standar dengan kabel standar yang disarankan oleh PLN.
  2. Penggantian dan pemasangan bola lampu pada gonjong atap dan seluruh ruangan Masjid dengan yang lebih terang.
  3. Pemasangan kipas angin baru dan penambahan lampu hias.
  4. Pemasangan keramik pada dinding depan bagian atas tempat imam yang pada saat ini sedang dikerjakan ( 05-04-2012).
  5. Membuat kaligrafi pada atas Mihrab dan tempat imam serta kiri kanan bagian depan yang pada saat ini masih dalam bentuk yang tertulis pada triplek (sedang direncanakan).
  6. Membongkar koridor pada pekarangan Masjid yang digunakan dahulunya sebagai tempat Sholat karena ruangan pada saat itu tidak layak pakai.(telah terlaksana)
  7. Rencana pembangunan tempat Berwudhuk laki-laki & perempuan yang sudah tidak memenuhi syarat lagi sekitar kurang lebih 30 tahun belum pernah direnovasi.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan tentang rencana dan perkembangan Masjid saat ini. Kami mengharapkan Sumbangan dan uluran tangan dari saudara – saudara untuk dapat memperlancar pembangunan Masjid Tertua ini, untuk menambah kenyamanan dalam berbibadah.

               

sumber : id.wikipedia dan website masjid