Seorang petani setiap hari pulang pergi dari sumber air ke ladang dengan pikulannya. Ia memikul 2 ember untuk menyirami tanamannya. Ember yang di pikulan depan sudah tua dan mulai bocor, sehingga ketika sampai di lading, airnya tinggal setengah, setengahnya lagi tumpah di perjalanan.

Suatu hari, ember bocor itu mengeluh dan berkata kepada petani, “Pensiunkan saja saya, saya adalah ember yang sia-sia karena tidak bisa menjaga air tetap penuh dari sumbernya hingga sampai ke ladang. Aku sudah bocor, aku tak berguna”. Tetapi petani berkata, “Tidak ember bocor, lihatlah di sepanjang perjalanan kita, bunga-bunga tumbuh, sementara yang lain kekeringan. Bunga-bunga itu tumbuh karena hasil pekerjaanmu. Memang kamu bocor, tapi kamu berguna untuk mekarnya bunga dan daun di sepanjang perjalanan yang kita lewati. Hidupmu tidak sia-sia, tapi berguna”.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa disekitar kita ada banyak bunga. Kadang sumbangan dari kita kepada mereka tidak direncanakan, tapi sungguh, sumbangan kita apapun itu, tidak pernah sia-sia. Jika ada teori fisika tentang hukum kekekalan energi, maka ada hukum yang lebih penting, yakni hukum kekekalan kebaikan, bahkan pelipatgandaan kebaikan. Kebaikan yang kita lakukan tidak pernah percuma dan sia-sia. Oleh karena itu, mulai hari ini selalulah berpikir dan berkata baik, serta berbuat baik. Dengan demikian Anda menjadi insan yang baik. Siapapun Anda, Anda senantiasa mengihtiarkan kebaikan pada sekitar Anda.

Jansen H. Sinamo
Sumber:http://www.pembelajar.com