Kok masih saja ya sesak ini terasa. Masih terasa justru makin terasa bila kucoba menghilangkannya. Nafas sesak ini begitu terasa nikmat. Harus makin kusadari dan tanamkan lebih dalam pada ingat, hingga sesak yang kurasa takkan banyak menyita nafas yang seharusnya.. Tapi aku tak begitu terpuruk, ini hanya persoalan nafas yang sesak pun kamu takkan tau. Kupikir ini biasa saja tak hanya soal dirimu.. Ini nafasku. Apa yg kuhirup.. Apa yg kuhembuskan.. Dan apa yg terjadi dan kulakukan diantara menghirup dan menghembuskan nafas ini. Ah memang ini yang seharusnya kurasakan, pikirku dalam tiap sesak. Kalau saja saat ini kita sedang bercakap-cakap.. Pasti banyak yang bisa kusampaikan. Tentu tentang nafas ini.. Meski aku paham yaa inilah perasaan, bila terbalas rasa sesak akan ada dengan warna yang berbeda..  Bukan seperti ini yang aku harus lebih bijak merasakannya. Karena perasaan ini sangat. Dan sakit ini juga sangat. Itu otomatis.
Hingga kini aku tak ingin merasa menyesal atas sesak yang kubuat ini. Aku tak mau menyesal telah memberi jalan perasaan ini. Bukan karena patah hati. Tapi penyesalan karena mungkin lebih indah bila perasaan ini tertutup rapat dan takkan ada perbedaan dan jarak dengan mu. Bukan seperti sekarang. Tapi ini tentang naluri tentang aku seorang pecinta dan aku seorang laki-laki, bahkan lebih dari ambisi. Untuk memilikimu.. Kini harus kunikmati rasa sesak ini dalam hariku.. Selalu datang bila ingat kamu. Dan makin sesak bila kubayangkan kamu tak pernah tau kamu tak pernah mengerti.
Inilah cinta. Dan inilah yang baru bisa kupahami sebagai sosok kecil yang baru belajar mengartikannya.. Cinta memang selalu rumit. Terkadang sosok yg mencintai dengan rasa yang besar justru memendam dengan rapat karena takut rasa itu akan menjadikan sesak bila diungkapkan.. Dan takut harus mengenalmu dengan cara lain bila diungkapkan karena pasti ada yang beda.